Rangkuman IPS Tema 9

 

RANGKUMAN IPS TEMA 9

 

·           Indonesia merupakan Negara yang kaya akan suku, adat istiadat. Indonesia terdiri atas ribuan pulau, suku bangsa, rumah adat, serta budaya daerah yang berbeda-beda. Kita tidak boleh merendahkan suku bangsa lain dan menganggap suku bangsa sendiri sebagai suku bangsa yang terbaik. Semua berada dalam satu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Walaupun beraneka ragam budaya, tetap menjunjung persatuan dan kesatuan. Kekayaan tersebut merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa sehingga kita wajib mensyukurinya.

 

·           Indonesia memiliki rumah adat yang beragam. Rumah adat adalah rumah tempat diselenggarakannya upacara adat istiadat. Bentuk rumah adat menunjukkan ciri khas kehidupan penduduk di daerah tersebut. Contoh, ciri rumah adat di Jawa Barat mempunyai teras yang luas dengan pintu yang lebar. Keadaan ini melambangkan masyarakat Jawa Barat yang terbuka terhadap suku bangsa lain, senang bermusyawarah, dan bersikap ramah. Rumah di daerah Kalimantan berbentuk panggung, karena lingkungan di sekitarnya banyak yang berupa hutan. Bentuk rumah panggung tersebut berguna untuk mencegah gangguan dari berbagai binatang buas.

 

·           Berikut contoh rumah adat

1.      Rumah Panjang merupakan rumah tradisional suku Dayak Kalimantan. Rumah ini memiliki bentuk memanjang dengan panjang kurang lebih 50 meter. Keunikan rumah ini terlihat dari bentuk bangunannya yang panjang. Banyak kepala keluarga yang tinggal di dalamnya. Namun sayang sekali, rumah unik seperti ini sudah jarang ditemukan. Hanya beberapa bangunan saja yang bertahan dan masih berpenghuni.

 

2.      Rumah Lontik merupakan rumah adat Riau, disebut juga rumah lancang. Bentuk atapnya melengkung ke atas, agak runcing, seperti tanduk kerbau. Dindingnya miring seperti perahu atau lancang. Hal itu melambangkan penghormatan kepada Tuhan dan sesama. Rumah adat Lontik dipengaruhi oleh kebudayaan Minangkabau. Rumah ini banyak terdapat di daerah perbatasan Sumatra Barat. Jumlah anak tangga rumah Lontik biasanya berjumlah ganjil

 

3.      Rumah Lamin adalah rumah adat suku Dayak Kenyah di Kalimantan Timur. Rumah ini berbentuk panggung setinggi 3 meter dari tanah dan dihuni sekitar 25- 30 kepala keluarga. Ujung atap rumah diberi hiasan kepala naga, yang merupakan symbol keagungan, budi luhur, dan kepahlawanan. Halaman rumah diisi oleh patung-patung Blontang, yang menggambarkan dewa-dewa sebagai penjaga rumah atau kampong. Rumah Lamin terdiri dari ruangan dapur, ruangan tidur, dan ruangan tengah yang digunakan sebagai tempat untuk menerima tamu atau pertemuan adat. Tangga untuk naik ke dalam rumah terbuat dari pohon. Bentuk tangga ini tidak berbeda antara rumah para bangsawan dan rakyat biasa. Dinding rumah lamin terbuat dari kayu yang diselingi daun rumbia. Bagian kolong rumah biasanya dimanfaatkan sebagai tempat memelihara ternak

 

4.      Rumah Betang. Ciri-ciri rumah betang adalah bentuk panggung dan memanjang. Panjangnya bisa mencapai 30-150 meter serta lebarnya dapat mencapai sekitar 10-30 meter, memiliki tiang yang tingginya sekitar 3-5 meter. Biasanya rumah betang dihuni oleh 100-150 jiwa, rumah betang dapat dikatakan sebagai rumah suku, karena selain di dalamnya terdapat satu keluarga besar yang menjadi penghuninya dan dipimpin pula oleh seorang Pambakas Lewu. Bagian dalam rumah betang terbagi menjadi beberapa ruangan yang bisa dihuni oleh setiap keluarga. Semua suku Dayak, terkecuali suku Dayak Punan yang hidup mengembara, pada mulanya berdiam dalam kebersamaan hidup secara komunal di rumah betang/rumah panjang, yang lazim disebut Lou, Lamin, Betang, dan Lewu Hante. Betang memiliki keunikan tersendiri. Rumah betang bentuknya memanjang serta terdapat sebuah tangga dan pintu masuk ke dalam betang. Tangga sebagai alat penghubung pada betang dinamakan hejot. Rumah betang yang dibangun tinggi dari permukaan tanah dimaksudkan untuk menghindari hal-hal yang meresahkan para penghuni betang, seperti menghindari musuh yang dapat datang tiba-tiba, binatang buas, ataupun banjir yang terkadang datang melanda. Hampir semua rumah betang dapat ditemui di pinggiran sungai-sungai besar yang ada di Kalimantan. Bangunan rumah betang biasanya berukuran besar, rumah betang dibangun menggunakan bahan kayu yang berkualitas tinggi, yaitu kayu ulin, selain memiliki kekuatan yang bisa berdiri sampai dengan ratusan tahun, kayu ini juga anti rayap. Pada halaman depan rumah betang biasanya terdapat balai sebagai tempat menerima tamu maupun sebagai tempat pertemuan adat. Pada bagian belakang dari rumah betang dapat ditemukan sebuah balai yang berukuran kecil yang dinamakan tukau yang digunakan sebagai gudang untuk menyimpan alat-alat pertanian, seperti lisung atau halu. Pada rumah betang juga terdapat sebuah tempat yang dijadikan sebagai tempat menyimpan senjata, tempat itu biasa disebut bawong. Pada bagian depan atau bagian belakang betang biasanya terdapat pula sandung. Sandung adalah sebuah tempat penyimpanan tulang-tulang keluarga yang sudah meninggal serta telah melewati proses upacara tiwah

 

5.      Rumah limas merupakan rumah panggung kayu. Dari segi arsitektur, rumah kayu itu disebut rumah limas karena bentuk atapnya yang berupa limasan. Sumatra Selatan adalah salah satu daerah yang memiliki ciri khas rumah limas sebagai rumah tinggal. Alam Sumatra Selatan yang lekat dengan perairan tawar, baik itu rawa maupun sungai, membuat masyarakatnya membangun rumah panggung. Di tepian Sungai Musi masih ada rumah limas yang pintu masuknya menghadap ke sungai. Ada dua jenis rumah limas di Sumatra Selatan, yaitu rumah limas yang dibangun dengan ketinggian lantai yang berbeda dan yang sejajar. Rumah limas yang lantainya sejajar ini disebut rumah ulu. Bangunan rumah limas biasanya memanjang ke belakang. Ada bangunan yang ukuran lebarnya 20 meter dengan panjang mencapai 100 meter. Rumah limas yang besar melambangkan status sosial pemilik rumah. Bangunan rumah limas memakai bahan kayu unglen atau merbau yang tahan air. Dindingnya terbuat dari papan-papan kayu yang disusun tegak. Untuk naik ke kiri dan kanan. Bagian teras rumah biasanya dikelilingi pagar kayu berjeruji yang disebut tenggalung. Memasuki bagian dalam rumah, pintu masuk ke rumah limas adalah bagian yang unik. Pintu kayu tersebut jika dibuka lebar akan menempel ke langit-langit teras. Untuk menopangnya, digunakan kunci dan pegas. Bagian dalam ruangan tamu, yang disebut kekijing, berupa pelataran yang luas. Ruangan ini menjadi pusat kegiatan berkumpul jika ada perhelatan. Bagian dinding ruangan dihiasi dengan ukiran bermotif flora yang dicat dengan warna keemasan. Tak jarang, pemilik menggunakan timah dan emas di bagian ukiran dan lampu-lampu gantung antik sebagai aksesoris

 

6.      Rumah adat Jambi dinamakan rumah panggung. Rumah panggung memiliki delapan ruang, yaitu ruang jogan, serambi depan, serambi dalam, kamar amben melintang, serambi belakang, ruang laren, ruang garang dan ruang tenggarai. 2. Rumah adat Bali memiliki pintu masuk yang dinamakan gapura candi Bentar. Balai bengong merupakan tempat untuk istirahat. Balai Wantikan merupakan tempat adu ayam atau untuk pagelaran kesenian. Kori agung merupakan pintu masuk pada waktu upacara besar serta Kori babetelan merupakan pintu masuk untuk keperluan keluarga. Bangunan rumah adat Bali selalu dipenuhi oleh hiasan-hiasan berupa ukiran dan patung-patung.

 

7.      Rumah adat Bengkulu dinamakan rumah rakyat. Rumah ini memiliki tiga kamar, yaitu kamar untuk orang tua, kamar gadis serat kamar bujang. 4. Rumah adat Kalimantan Selatan dinamakan rumah bubungan tinggi. Rumah adat ini memiliki atap yang lancip dengan sudut 45˚, berbentuk segi empat panjang dengan tambahan pada samping kanan kiri bangunan. 5. Ada dua macam rumah adat DKI Jakarta, yaitu rumah kebaya dan rumah joglo Betawi.

 

8.      Rumah kebaya memiliki beberapa atap yang jika dilihat dari samping berlipat-lipat seperti lipatan kebaya, dindingnya terbuat dari panil-panil yang dapat dibuka-buka dan digeser ke tepi. b. Rumah joglo Betawi memiliki atap seperti rumah joglo Jawa, yaitu atap yang menjulang ke atas dan tumpul. Setiap bagian rumah memiliki fungsi, yaitu serambi depan untuk menerima tamu laki-laki, sedangkan serambi belakang untuk menerima tamu perempuan.

 

9.      Rumah adat Jawa Tengah dinamakan rumah joglo. Rumah tradisional masyarakat Jawa Tengah ini memiliki ciri yang khas, yaitu menggunakan blandar bersusun ke atas yang dinamakan blandar tumpang sari. Bangunan Joglo ini juga memiliki kerang yang disebut sunduk atau sunduk kili yang berfungsi sebagai penguat bangunan atau penyiku agar tidak berubah posisinya. Bentuk bangunan joglo adalah bujur sangkar.

 

10.  Rumah kesepuhan Cirebon merupakan rumah tradisional Jawa Barat yang terdiri atas pendopo, pringgondani, prabayasa, dan panembahan. Setiap bagian memiliki fungsi masing-masing. Pendopo diperuntukkan para pengawal sultan, Pringgondani untuk tempat sultan dalam memerintah kepada para adipati, Prabayasa diperuntukkan sebagai tempat menerima tamu sultan, dan Panembahan sebagai ruang kerja serta tempat istirahat sultan.

 

·           Agama Islam mulai berkembang di Jazirah Arab pada tahun 622 M. Mulamula, agama Islam dibawa oleh Nabi Muhammad SAW setelah beliau mendapat wahyu dari Allah SWT. Kemudian, agama tersebut berkembang dengan pesat, yaitu ke barat sampai Spanyol, serta ke timur sampai Persia dan Gujarat India.

 

·           Agama Islam masuk ke Indonesia melalui para pedagang yang berasal dari Arab, Persia, dan Gujarat India. Dalam waktu singkat agama Islam tersebar luas di Indonesia. Ketika itu, kekuatan kerajaan-kerajaan yang bercorak hindu dan budha sudah mulai melemah kekuatannya. Kerajaan-kerajaan yang berada di bawah kekuasaan mereka mulai melepaskan diri dan raja-rajanya memeluk agama Islam. Setelah itu, bermunculan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.

 

·           Di antaranya adalah Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.

 

1.             Kerajaan Samudra Pasai

 

Agama Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke-13. Kerajaan Islam yang pertama muncul di Indonesia ialah Kerajaan Samudra Pasai. Kerajaan ini terletak di pantai timur Sumatera, yaitu sekitar Sungai Jambu Air dan Sungai Pasai daerah Aceh Lhokseumawe. Ibukota kerajaan ini semula terletak di Samudra, kemudian pindah ke Pasai. Awalnya kerajaan ini terdiri atas dua daerah, yaitu Samudra dan Pasai. Kedua daerah itu telah lama menjadi tempat persinggahan dan tempat bermukim paraKerajaan Samudra Pasai Agama Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke-13.

 

Kerajaan Islam yang pertama muncul di Indonesia ialah Kerajaan Samudra Pasai. Kerajaan ini terletak di pantai timur Sumatera, yaitu sekitar Sungai Jambu Air dan Sungai Pasai daerah Aceh Lhokseumawe. Ibukota kerajaan ini semula terletak di Samudra, kemudian pindah ke Pasai. Awalnya kerajaan ini terdiri atas dua daerah, yaitu Samudra dan Pasai. Kedua daerah itu telah lama menjadi tempat persinggahan dan tempat bermukim para saudagar dari Arab, Persia, dan India. Sesudah kekuasaan Islam muncul, kedua daerah ini disatukan menjadi Kerajaan Samudra Pasai.

 

Bukti adanya kerajaan ini diperkuat oleh pedagang dari Venesia yang bernama Marcopolo, Italia yang singgah di Peureulak pada tahun 1292 M. Menurut buku hikayat raja-aja Pasai. Saat itu Peureulak merupakan sebuah kerajaan. Kerajaan Samudra Pasai didirikan oleh Sultan Malik Al Saleh, Setelah Sultan Malik Al Saleh menikah dengan Putri Ganggang dari Peureulak, akhirnya Peureulak bergabung ke dalam Kerajaan Samudra Pasai.

 

Selain Sultan Malik Al Saleh, raja terkenal lainnya ialah Sultan Malik At-Tahir. Pada masa pemerintahannya, datanglah seorang pengembara dari Maroko bernama Ibnu Batutah. Dari catatan Ibnu Batutah diketahui adanya masyarakat Samudra Pasai. Mata Pencaharian utama masyarakat Kerajaan Samudra Pasai adalah dari pelayaran dan perdagangan. Pelayaran dan perdagangan menjadi ramai karena Kerajaan Samudra Pasai terletak di jalur perdagangan antara India dan Tiongkok, yaitu Selat Malaka.

 

Selain menjadi pusat perdagangan, Samudra Pasai juga menjadi pusat penyebaran agama Islam. Pada tahun 1361 M, Kerajaan Samudra Pasai diserang oleh kerajaan majapahit. Saat itu, Samudra Pasai diperintah oleh Sultan Zaenal Abidin. Serangan itu dilancarkan karena Majapahit khawatir akan kemajuan Samudra Pasai di bidang pelayaran dan Perdagangan. Kekuasaan Kerajaan Samudra Pasai kembali merosot pada awal abad ke15. Kerajaan ini tidak terkenal dibandingkan Kesultanan Malaka. Meskipun makin merosot, nama Samudra Pasai abadi dalam bentuk lain. Ibnu Batutah mengeja nama itu sebagai Sunatrah. Itulah cikal bakal nama Pulau Sumatera yang kita kenal sekarang.

 

2.             Kerajaan Aceh

 

Pada tahun 1511 M, bangsa Portugis menguasai Malaka kemudian Portugis menguasai Samudra Pasai. Sejak saat itu, para pedagang Islam mencari pelabuhan lain untuk menghindari Portugis. Pelabuhan baru itu adalah Aceh. Dari sinilah muncul sebuah kerajaan baru, yaitu kerajaan Aceh. Kerajaan Aceh berdiri pada abad ke-16. Kerajaan ini terletak di tepi selat Malaka, sedangkan pusat Kerajaan Aceh terdapat di Kutaraja (Banda Aceh).

 

Kerajaan Aceh yang pertama dipimpin oleh raja yang bernama Sultan Ali Mughayat Syah. Beliau memerintah antara tahun 1514 – 1528 M. Pada tahun 1520 M, Ali Mughayat Syah mulai memperluas wilayah kekuasaannya. Kemudian Kerajaan Aceh berkembang menjadi sebuah kerajaan Islam yang kuat.

 

Kerajaan Aceh berhasil menguasai daerah penghasil lada dan emas, yaitu Deli, Pasai, dan Arun. Sultan Ali Mughayat Syah wafat pada tahun 1530 M. Beliau digantikan oleh putra sulungnya yang bernama Salahuddin (1528 – 1537M). Sultan tersebut tidak mampu menjalankan roda pemerintahan. Akhirnya pada tahun 1537 M, ia digantikan oleh adiknya, Aulauddin Riayat Syah (1537 – 1568), yang bergelar Al Qahhar (Sang Penguasa). Sultan Alauddin Riayat Syah menyebarkan agama Islam sampai ke Siak (Riau) dan Minangkabau (Sumatera Barat). Dalam hubungannya dengan luar negeri, Sultan tersebut menjalin hubungan dengan Turki di Istanbul. Sekitar 40 orang perwira Turki melatih tentara Aceh dan mengajarkan pembuatan meriam di Aceh. Armada Aceh menjadi semakin tangguh.

 

Dengan kekuatan armadanya, Sultan Alauddin menggempur Portugis di Malaka sebanyak tiga kali, yaitu pada tahun 1527, 1560, dan 1568 M. Namun usaha Sultan Alauddin gagal. Setelah Sultan Alauddin wafat, kekuatan Aceh mulai melemah. Kerajaan Aceh mulai maju perkembangannya saat Sultan Iskandar Muda naik tahta. Wilayah kekuasaan Aceh semakin luas. Kekuasaan Aceh meliputi sebagian besar Sumatera, kecuali Palembang dan Lampung yang dikuasai oleh Banten. Armada Aceh menjadi kekuatan laut yang besar di nusantara bagian barat. Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, kerajaan Aceh mencapai kejayaannya.

 

Sultan Iskandar Muda memperluas wilayahnya hingga ke semenanjung Malaysia dengan menaklukkan Johor pada tahun 1615, Pahang 1617, dan Kedah 1620 M. pada tahun 1629, Sultan Iskandar Muda mengirim ratusan kapal perang untuk merebut Malaka dari tangan Portugis. Usaha tersebut gagal karena Portugis memperalat Sultan Johor untuk menyerang Aceh. Kerajaan Aceh pun berhasil menjadikan kerajaannya sebagai pusat perdagangan dan pengembangan agama Islam. Pada saat itu, Aceh memiliki banyak pujangga ternama, seperti Hamzah Fansuri, serta ulama terkenal yang bernama Syekh Abdurrauf Singkil. Syekh Abdurrauf Singkil inilah yang pertama kali menerjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa Melayu. Aceh mengalami kemunduran Sejak Sultan Iskandar Muda wafat pada tahun 1636 M.

 

3.             Kerajaan Demak

 

Demak merupakan kerajaan Islam pertama di pulau Jawa. Semula, Demak merupakan salah satu wilayah di bawah kekuasaan Majapahit. Pada abad ke-15, daerah pantai utara Jawa Tengah dan Jawa Timur, termasuk Demak, sudah memeluk agama Islam. Akan tetapi raja-rajanya tetap setia kepada Majapahit. Perbedaan agama tidak menjadi persoalan, sebab kalangan pembesar Majapahit pun sudah mulai menganut agama Islam. Hal ini dibuktikan oleh adanya pemakaman muslim di Tralaya dan Trowulan. Ketika Kerajaan Majapahit runtuh akibat perang saudara pada tahun 1478, pusat kerajaan Hindu berpindah dari Holing dan akhirnya ke Daha (Kediri). Runtuhnya Majapahit menyebabkan bangkitnya Demak menjadi kerajaan Islam pertama di pulau Jawa.

Berikut ini adalah raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Demak:

 

1.        Raden Patah Sultan Demak yang pertama adalah Raden Patah. Nama ini berasal dari bahasa Arab. Fatah yang artinya pembuka. Ia disebut demikian karena menjadi penguasa pertama yang beragama Islam. Raden patah memerintah tahun 1481 M – 1518 M

 

2.        Adipati Unus Putra tertua Raden Patah adalah pangeran Unus. Ia menjabat sebagai adipati/ bupati di Jepara sehingga dikenal sebagai Dipati Unus. Pada tahun 1513 M, ia memimpin armada laut Demak yang berjumlah ribuan orang tentara untuk merebut Malaka dari tangan Portugis. Oleh karena usahanya yang gigih itu. Ia dijuluki “Pangeran Sabrang Lor’’. Dipati Unus memerintah di tahun 1518 – 1521 M. Kerajaan Demak mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Trenggono. Sedangkan, Pada masa Kerajaan Demak, penyebaran agama Islam di pulau Jawa berkembang sangat pesat. Tokoh-tokoh yang tidak boleh dilupakan dalam penyebaran agama Islam di pulau Jawa adalah para wali yang berjumlah sembilan orang. Sering orang menyebutnya dengan “Wali Songo” atau yang artinya “Wali Sembilan”.

 

4.             Kerajaan Banten

 

Pada awal abad ke-16, daerah Jawa Barat dikuasai oleh Kerajaan Pajajaran yang beragama Hindu. Pusat kerajaan ini berlokasi di Pakuan (Bogor). Kerajaan Pajajaran memiliki bandar-bandar penting seperti Banten, Sunda Kelapa (Jakarta), dan Cirebon. Kerajaan Pajajaran telah mengadakan kerja sama dengan Portugis. Oleh karena itu, Portugis diizinkan mendirikan kantor dagang dan benteng pertahanan di Sunda Kelapa. Untuk membendung pengaruh Portugis di Pajajaran, Sultan Trenggono dari Demak memerintahkan Fatahillah selaku panglima Kerajaan Demak untuk menaklukkan bandar-bandar Pajajaran.

 

Pada tahun 1526 M, armada Demak berhasil menguasai Banten. Pasukan Fatahillah juga berhasil merebut pelabuhan Sunda Kelapa pada 22 Juni 1527 M. Sejak saat ini nama “Sunda Kelapa” diubah menjadi “Jayakarta” atau “Jakarta”. Artinya kota kemenangan. Untuk mengenang hari tersebut maka tanggal 22 Juni kemudian dijadikan hari jadi ibukota Jakarta.

 

Dalam waktu singkat, seluruh Pantai Utara Jawa Barat dapat dikuasai oleh Fatahillah. Agama Islam semakin berkembang di Jawa Barat. Pada tahun 1552 M, putra Fatahillah yang bernama Hasanuddin diangkat menjadi penguasa Banten. Putranya yang lain, Pasarean, diangkat menjadi penguasa di Cirebon. Fatahillah sendiri mendirikan pusat kegiatan keagamaan di Gunung Jati, Cirebon sampai beliau wafat pada tahun 1568 M. Jadi pada awalnya Kerajaan Banten merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Demak.

 

Beberapa raja yang pernah memimpin kerajaan Banten, antara lain:

 

1)        Sultan Hasanuddin Ketika terjadi perebutan kekuasaan di Kerajaan Demak, daerah Banten dan Cirebon berusaha melepaskan diri dari kekuasaan Demak. Akhirnya, Banten dan Cirebon menjadi kerajaan yang berdaulat, lepas dari pengaruh Demak. Sultan Hasanuddin menjadi raja pertama di Banten dan memerintah selama 18 tahun, pada tahun 1552 – 1570 M. Pada masa pemerintahannya Ia berhasil membangun pelabuhan Banten menjadi pelabuhan yang ramai dikunjungi para pedagang dari berbagai bangsa, serta berhasil menguasai Lampung (Sumatera) yang memiliki jalur lalu lintas perdagangan dan banyak menghasilkan rempah-rempah.

 

2)        Maulana Yusuf Maulana Yusuf memerintah Kerajaan Banten pada tahun 1570 – 1580 M. pada tahun 1579. Ia berhasil menaklukkan Kerajaan-kerajaan di Pakuan (Bogor) dan sekaligus menyingkirkan rajanya yang bernama Prabu sedah. Akibatnya, banyak rakyat Pajajaran yang menyinggir ke pegunungan. Mereka inilah yang sekarang di kenal sebagai orang Badui atau suku Badui di Rangkas Bitung, Banten.

 

3)        Sultan Ageng Tirtayasa Sultan Ageng Tirtayasa memerintah Banten pada tahun 1651 – 1682 M. kerajaan ini pada saat dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa mencapai masa kejayaannya. Pada tahun 1571 M, Ia mengangkat putranya menjadi raja pembantu dengan gelar Sultan Abdul Kahar atau Sultan Haji. Sultan Haji menjalin hubungan baik dengan Belanda. Melihat hal itu, Sultan Ageng Tirtayasa merasa kecewa dan menarik kembali jabatan raja pembantu bagi Sultan Haji. Akan tetapi, Sultan Haji berusaha mempertahankan dengan meminta bantuan kepada Belanda. Akibatnya, terjadilah perang saudara. Sultan Ageng Tirtayasa tertangkap dan dipenjara di Batavia (sekarang Jakarta) hingga beliau wafat pada tahun 1691 M.

 

5.             Kerajaan Ternate dan Tidore

 

Sejak abad ke-13, Maluku sudah ramai dikunjungi oleh pedagang-pedagang Islam dari Jawa dan Melayu. Seiring dengan ramainya perdagangan, berdatangan pula para penyebar agama Islam dari Jawa Timur. Salah seorang ulama yang berjasa menyebarkan agama Islam di Maluku ialah Sunan Giri dan Gresik, Jawa Timur.

 

Kerajaan atau kesultanan Ternate merupakan kerajaan yang mendapat mengaruh Islam dari para pedagang Jawa dan Melayu. Pusat pemerintahan Kerajaan Ternate terdapat di Sampalu. Raja Ternate yang pertama yaitu Sultan Zainal Abidin (1486 – 1500 M). Raja yang Ternate yang terkenal yaitu, Sultan Hairun. Selain Kerajaan Ternate, terdapat pula kerajaan Tidore. Raja Tidore yang pertama, yaitu Sultan Mansur.

 

Raja atau Sultan Tidore yang terkenal ialah pangeran Nuku. Kerajaan Ternate dan Tidore terjadi persaingan dalam hal memperluas kekuasaan dan perdagangan sehingga sering terjadi peperangan.

 

Pada abad ke-16, bangsa eropa mulai berdatangan ke Maluku. Perselisihan antara Ternate dan Tidore dimanfaatkan oleh Portugis dan Spanyol. Raja atau Sultan Ternate dibantu oleh Portugis, sedangkan Raja atau Sultan Tidore dibantu oleh Spanyol. Untunglah masyarakat Maluku sadar bahwa mereka diperalat oleh bangsa asing. Mereka kembali bersatu padu untuk melawan bangsa asing. Pada tahun 1575 M, Ternate di bawah pimpinan Sultan Baabullah, berhasil menghancurkan benteng Portugis di Maluku.

 

Pada masa pemerintahan Sultan Baabullah (1570 – 1583 M), Ternate mengalami kemajuan yang pesat dan berhasil mengusir Portugis dan Spanyol dari Maluku.

 

 

6.             Kerajaan Gowa dan Tallo

 

Gowa dan Tallo merupakan kerajaan kembar yang bersatu. Pusat kerajaan tersebut adalah di Somba Opu (Makasar). Raja Tallo pada waktu itu bernama Karaeng Matoaya. Ia merupakan raja pertama Sulawesi Selatan yang memeluk agama Islam dan bergelar Abdullah Awalu Islam. Sedangkan, Raja Gowa bernama Daeng Manrabia.

 

Dalam bidang perdagangan, kerajaan Gowa-Tallo menjalin hubungan baik dengan kerajaan lain, seperti Banten, Mataram, Maluku, dan Malaka. Hubungan luar negeri juga berjalan dengan baik, terutama dengan Arab, Spanyol, dan Portugis. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya saat dipimpin oleh Sultan Hasanudin (1653 – 1669 M). Ketika itu Belanda berusaha keras untuk menguasai Gowa-Tallo, namun mendapat perlawanan sengit dari Sultan Hasanuddin. Salah satunya Belanda menghalangi pelaut Makasar memberi rempah-rempah dari Maluku, dengan tegas hasanudddin berkata. “Laut adalah milik Allah dan semua menusia bebas menggunakannya”.

 

Karena ketegasannya Belanda menjuluki Sultan Hasanuddin sebagai “Ayam Jantan dari Timur”. Akhirnya karena pengkhianatan Raja Aru Palaka dari Bone, Belanda berhasil mengalahkan Kerajaan Gowa-Tallo pada tahun 1667 M, Sultan Hasanuddin harus menandatangani perjanjian Bongaya yang sangat merugikan rakyat Gowa dan Tallo.

 

Peninggalan Kerajaan Bercorak Islam di Indonesia

 

Seperti yang telah dipelajari di atas, Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke[1]11 s.d ke-13 M. Hal ini dibuktikan oleh Marco Polo (1297 M) dan berita Ibnu Batutah pada abad ke-14 M. pengaruh Islam masuk ke Indonesia tidak melalui kekerasan atau peperangan, tetapi secara damai dan perlahan-lahan melalui para pedagang yang berasal dari Arab, Persia, dan Gujarat.

 

Sebagaimana kerajaan Hindu dan Budha, kerajaan Islam di Indonesia juga meninggalkan berbagai peninggalan sejarah. Peninggalan itu berupa bangunan tempat ibadah/ masjid, makam atau kuburan, pondok pesantren, dan lain-lain:

 

1.      Masjid

 

Masjid merupakan tempat ibadah bagi umat Islam. Pada masa lampau, masjid dipakai sebagai tempat ibadah para raja. Beberapa masjid peninggalan kerajaan-kerajaan Islam antara lain sebagai berikut:

 - Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh - Masjid Raya Medan - Masjid Agung Banten - Masjid Agung Demak - Masjid Agung Yogyakarta

 

2.      Istana

 

Istana raja pada zaman dahulu digunakan sebagai tempat tinggal raja dan keluarganya, serta pembesar kerajaan lainnya.

 

Beberapa istana peninggalan antara lain sebagai berikut:

 - Istana Maimun Medan Baru, Sumatera Utara - Istana Siak Sri Inderapura, Pekan Baru Riau - Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Yogyakarta

 

Kerajaan Samudra Pasai, peninggalan : Hikayat Raja Pasai, Lonceng Cakra Donya, dan makam Sultan Malik Al Saleh.

 

Kerajaan Aceh, peninggalan : Masjid Raya Baiturrahman, Benteng Indraprata, dan makam Iskandar Muda.

 

Kerajaan Demak, peninggalan : Masjid Agung Demak dan pintu Bledeg.

 

Kerajaan Banten, peninggalan : Masjid Agung Banten, Istana Keraton Kaibon, dan Istana Surosowan.

 

Kerajaan Ternate dan Tidore, peninggalan : Makam Sultan Baabullah, Masjid Ternate, dan Keraton Tidore.

 

Gowa-Tallo, peninggalan : Benteng Ford Rotterdam, Benteng Somba Opu, makam Sultan Hasanuddin, dan masjid Katangka. Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh Istana Maimun Medan Baru, Sumatera

 

Pengaruh Kerajaan Islam Terhadap Kehidupan Masa Kini

 

Setelah kerajaan Hindu-Budha di Indonesia mengalami kemunduran, muncullah kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Kerajaan ini membawa pengaruh terhadap kehidupan masyarakat sekitar. Pengaruh kerajaan Islam pada masa kini terjadi pada beberapa aspek, misalnya di bidang pendidikan, pemberian nama universitas, pemberian nama Bandara, dan pemberian nama anak. Kini banyak sekolah yang berbasis agama Islam.

 

Selain itu, adanya pesantren juga merupakan bentuk pengaruh Islam yang terjadi di Indonesia. Nama-nama universitas yang memakai nama kerajaan dan tokoh-tokoh masa kerajaan Islam, antara lain:

a. UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

b. UIN Sunan Gunung Jati, Bandung Jawa Barat

c. Universitas Hasanuddin, Makasar Sulawesi Selatan

d. Universitas Sultan Agung Tirtayasa, Serang Banten


untuk latihan soal dapat klik link quizizz berikut ini

juga dapat berlatih latihan soal pada link ini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SINONIM

IPS-KEBERAGAMAN SUKU BUDAYA