Rangkuman IPS Tema 9
RANGKUMAN
IPS TEMA 9
·
Indonesia
merupakan Negara yang kaya akan suku, adat istiadat. Indonesia terdiri atas
ribuan pulau, suku bangsa, rumah adat, serta budaya daerah yang berbeda-beda.
Kita tidak boleh merendahkan suku bangsa lain dan menganggap suku bangsa
sendiri sebagai suku bangsa yang terbaik. Semua berada dalam satu Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Walaupun beraneka ragam budaya, tetap
menjunjung persatuan dan kesatuan. Kekayaan tersebut merupakan anugerah dari
Tuhan Yang Maha Esa sehingga kita wajib mensyukurinya.
·
Indonesia
memiliki rumah adat yang beragam. Rumah adat adalah rumah tempat
diselenggarakannya upacara adat istiadat. Bentuk rumah adat menunjukkan ciri
khas kehidupan penduduk di daerah tersebut. Contoh, ciri rumah adat di Jawa
Barat mempunyai teras yang luas dengan pintu yang lebar. Keadaan ini
melambangkan masyarakat Jawa Barat yang terbuka terhadap suku bangsa lain,
senang bermusyawarah, dan bersikap ramah. Rumah di daerah Kalimantan berbentuk
panggung, karena lingkungan di sekitarnya banyak yang berupa hutan. Bentuk
rumah panggung tersebut berguna untuk mencegah gangguan dari berbagai binatang
buas.
·
Berikut
contoh rumah adat
1.
Rumah
Panjang merupakan rumah tradisional suku Dayak Kalimantan. Rumah ini memiliki
bentuk memanjang dengan panjang kurang lebih 50 meter. Keunikan rumah ini
terlihat dari bentuk bangunannya yang panjang. Banyak kepala keluarga yang
tinggal di dalamnya. Namun sayang sekali, rumah unik seperti ini sudah jarang
ditemukan. Hanya beberapa bangunan saja yang bertahan dan masih berpenghuni.
2.
Rumah
Lontik merupakan rumah adat Riau, disebut juga rumah lancang. Bentuk atapnya
melengkung ke atas, agak runcing, seperti tanduk kerbau. Dindingnya miring
seperti perahu atau lancang. Hal itu melambangkan penghormatan kepada Tuhan dan
sesama. Rumah adat Lontik dipengaruhi oleh kebudayaan Minangkabau. Rumah ini
banyak terdapat di daerah perbatasan Sumatra Barat. Jumlah anak tangga rumah
Lontik biasanya berjumlah ganjil
3.
Rumah
Lamin adalah rumah adat suku Dayak Kenyah di Kalimantan Timur. Rumah ini
berbentuk panggung setinggi 3 meter dari tanah dan dihuni sekitar 25- 30 kepala
keluarga. Ujung atap rumah diberi hiasan kepala naga, yang merupakan symbol
keagungan, budi luhur, dan kepahlawanan. Halaman rumah diisi oleh patung-patung
Blontang, yang menggambarkan dewa-dewa sebagai penjaga rumah atau kampong.
Rumah Lamin terdiri dari ruangan dapur, ruangan tidur, dan ruangan tengah yang
digunakan sebagai tempat untuk menerima tamu atau pertemuan adat. Tangga untuk
naik ke dalam rumah terbuat dari pohon. Bentuk tangga ini tidak berbeda antara
rumah para bangsawan dan rakyat biasa. Dinding rumah lamin terbuat dari kayu
yang diselingi daun rumbia. Bagian kolong rumah biasanya dimanfaatkan sebagai
tempat memelihara ternak
4.
Rumah
Betang. Ciri-ciri rumah betang adalah bentuk panggung dan memanjang. Panjangnya
bisa mencapai 30-150 meter serta lebarnya dapat mencapai sekitar 10-30 meter,
memiliki tiang yang tingginya sekitar 3-5 meter. Biasanya rumah betang dihuni
oleh 100-150 jiwa, rumah betang dapat dikatakan sebagai rumah suku, karena
selain di dalamnya terdapat satu keluarga besar yang menjadi penghuninya dan
dipimpin pula oleh seorang Pambakas Lewu. Bagian dalam rumah betang terbagi
menjadi beberapa ruangan yang bisa dihuni oleh setiap keluarga. Semua suku
Dayak, terkecuali suku Dayak Punan yang hidup mengembara, pada mulanya berdiam
dalam kebersamaan hidup secara komunal di rumah betang/rumah panjang, yang
lazim disebut Lou, Lamin, Betang, dan Lewu Hante. Betang memiliki keunikan
tersendiri. Rumah betang bentuknya memanjang serta terdapat sebuah tangga dan
pintu masuk ke dalam betang. Tangga sebagai alat penghubung pada betang
dinamakan hejot. Rumah betang yang dibangun tinggi dari permukaan tanah
dimaksudkan untuk menghindari hal-hal yang meresahkan para penghuni betang,
seperti menghindari musuh yang dapat datang tiba-tiba, binatang buas, ataupun
banjir yang terkadang datang melanda. Hampir semua rumah betang dapat ditemui
di pinggiran sungai-sungai besar yang ada di Kalimantan. Bangunan rumah betang
biasanya berukuran besar, rumah betang dibangun menggunakan bahan kayu yang
berkualitas tinggi, yaitu kayu ulin, selain memiliki kekuatan yang bisa berdiri
sampai dengan ratusan tahun, kayu ini juga anti rayap. Pada halaman depan rumah
betang biasanya terdapat balai sebagai tempat menerima tamu maupun sebagai
tempat pertemuan adat. Pada bagian belakang dari rumah betang dapat ditemukan
sebuah balai yang berukuran kecil yang dinamakan tukau yang digunakan sebagai
gudang untuk menyimpan alat-alat pertanian, seperti lisung atau halu. Pada
rumah betang juga terdapat sebuah tempat yang dijadikan sebagai tempat
menyimpan senjata, tempat itu biasa disebut bawong. Pada bagian depan atau
bagian belakang betang biasanya terdapat pula sandung. Sandung adalah sebuah
tempat penyimpanan tulang-tulang keluarga yang sudah meninggal serta telah
melewati proses upacara tiwah
5.
Rumah
limas merupakan rumah panggung kayu. Dari segi arsitektur, rumah kayu itu
disebut rumah limas karena bentuk atapnya yang berupa limasan. Sumatra Selatan
adalah salah satu daerah yang memiliki ciri khas rumah limas sebagai rumah
tinggal. Alam Sumatra Selatan yang lekat dengan perairan tawar, baik itu rawa
maupun sungai, membuat masyarakatnya membangun rumah panggung. Di tepian Sungai
Musi masih ada rumah limas yang pintu masuknya menghadap ke sungai. Ada dua
jenis rumah limas di Sumatra Selatan, yaitu rumah limas yang dibangun dengan
ketinggian lantai yang berbeda dan yang sejajar. Rumah limas yang lantainya
sejajar ini disebut rumah ulu. Bangunan rumah limas biasanya memanjang ke
belakang. Ada bangunan yang ukuran lebarnya 20 meter dengan panjang mencapai
100 meter. Rumah limas yang besar melambangkan status sosial pemilik rumah.
Bangunan rumah limas memakai bahan kayu unglen atau merbau yang tahan air.
Dindingnya terbuat dari papan-papan kayu yang disusun tegak. Untuk naik ke kiri
dan kanan. Bagian teras rumah biasanya dikelilingi pagar kayu berjeruji yang
disebut tenggalung. Memasuki bagian dalam rumah, pintu masuk ke rumah limas
adalah bagian yang unik. Pintu kayu tersebut jika dibuka lebar akan menempel ke
langit-langit teras. Untuk menopangnya, digunakan kunci dan pegas. Bagian dalam
ruangan tamu, yang disebut kekijing, berupa pelataran yang luas. Ruangan ini
menjadi pusat kegiatan berkumpul jika ada perhelatan. Bagian dinding ruangan
dihiasi dengan ukiran bermotif flora yang dicat dengan warna keemasan. Tak
jarang, pemilik menggunakan timah dan emas di bagian ukiran dan lampu-lampu
gantung antik sebagai aksesoris
6.
Rumah
adat Jambi dinamakan rumah panggung. Rumah panggung memiliki delapan ruang,
yaitu ruang jogan, serambi depan, serambi dalam, kamar amben melintang, serambi
belakang, ruang laren, ruang garang dan ruang tenggarai. 2. Rumah adat Bali
memiliki pintu masuk yang dinamakan gapura candi Bentar. Balai bengong
merupakan tempat untuk istirahat. Balai Wantikan merupakan tempat adu ayam atau
untuk pagelaran kesenian. Kori agung merupakan pintu masuk pada waktu upacara
besar serta Kori babetelan merupakan pintu masuk untuk keperluan keluarga.
Bangunan rumah adat Bali selalu dipenuhi oleh hiasan-hiasan berupa ukiran dan
patung-patung.
7.
Rumah
adat Bengkulu dinamakan rumah rakyat. Rumah ini memiliki tiga kamar, yaitu
kamar untuk orang tua, kamar gadis serat kamar bujang. 4. Rumah adat Kalimantan
Selatan dinamakan rumah bubungan tinggi. Rumah adat ini memiliki atap yang
lancip dengan sudut 45˚, berbentuk segi empat panjang dengan tambahan pada
samping kanan kiri bangunan. 5. Ada dua macam rumah adat DKI Jakarta, yaitu rumah
kebaya dan rumah joglo Betawi.
8.
Rumah
kebaya memiliki beberapa atap yang jika dilihat dari samping berlipat-lipat
seperti lipatan kebaya, dindingnya terbuat dari panil-panil yang dapat
dibuka-buka dan digeser ke tepi. b. Rumah joglo Betawi memiliki atap seperti
rumah joglo Jawa, yaitu atap yang menjulang ke atas dan tumpul. Setiap bagian
rumah memiliki fungsi, yaitu serambi depan untuk menerima tamu laki-laki,
sedangkan serambi belakang untuk menerima tamu perempuan.
9.
Rumah
adat Jawa Tengah dinamakan rumah joglo. Rumah tradisional masyarakat Jawa
Tengah ini memiliki ciri yang khas, yaitu menggunakan blandar bersusun ke atas
yang dinamakan blandar tumpang sari. Bangunan Joglo ini juga memiliki kerang
yang disebut sunduk atau sunduk kili yang berfungsi sebagai penguat bangunan
atau penyiku agar tidak berubah posisinya. Bentuk bangunan joglo adalah bujur
sangkar.
10.
Rumah
kesepuhan Cirebon merupakan rumah tradisional Jawa Barat yang terdiri atas
pendopo, pringgondani, prabayasa, dan panembahan. Setiap bagian memiliki fungsi
masing-masing. Pendopo diperuntukkan para pengawal sultan, Pringgondani untuk
tempat sultan dalam memerintah kepada para adipati, Prabayasa diperuntukkan
sebagai tempat menerima tamu sultan, dan Panembahan sebagai ruang kerja serta
tempat istirahat sultan.
·
Agama
Islam mulai berkembang di Jazirah Arab pada tahun 622 M. Mulamula, agama Islam
dibawa oleh Nabi Muhammad SAW setelah beliau mendapat wahyu dari Allah SWT.
Kemudian, agama tersebut berkembang dengan pesat, yaitu ke barat sampai Spanyol,
serta ke timur sampai Persia dan Gujarat India.
·
Agama
Islam masuk ke Indonesia melalui para pedagang yang berasal dari Arab, Persia,
dan Gujarat India. Dalam waktu singkat agama Islam tersebar luas di Indonesia.
Ketika itu, kekuatan kerajaan-kerajaan yang bercorak hindu dan budha sudah
mulai melemah kekuatannya. Kerajaan-kerajaan yang berada di bawah kekuasaan
mereka mulai melepaskan diri dan raja-rajanya memeluk agama Islam. Setelah itu,
bermunculan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.
·
Di
antaranya adalah Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.
1.
Kerajaan Samudra Pasai
Agama
Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke-13. Kerajaan Islam yang pertama muncul
di Indonesia ialah Kerajaan Samudra Pasai. Kerajaan ini terletak di pantai
timur Sumatera, yaitu sekitar Sungai Jambu Air dan Sungai Pasai daerah Aceh
Lhokseumawe. Ibukota kerajaan ini semula terletak di Samudra, kemudian pindah
ke Pasai. Awalnya kerajaan ini terdiri atas dua daerah, yaitu Samudra dan
Pasai. Kedua daerah itu telah lama menjadi tempat persinggahan dan tempat
bermukim paraKerajaan Samudra Pasai Agama Islam masuk ke Indonesia sekitar abad
ke-13.
Kerajaan
Islam yang pertama muncul di Indonesia ialah Kerajaan Samudra Pasai. Kerajaan
ini terletak di pantai timur Sumatera, yaitu sekitar Sungai Jambu Air dan
Sungai Pasai daerah Aceh Lhokseumawe. Ibukota kerajaan ini semula terletak di
Samudra, kemudian pindah ke Pasai. Awalnya kerajaan ini terdiri atas dua
daerah, yaitu Samudra dan Pasai. Kedua daerah itu telah lama menjadi tempat
persinggahan dan tempat bermukim para saudagar dari Arab, Persia, dan India.
Sesudah kekuasaan Islam muncul, kedua daerah ini disatukan menjadi Kerajaan
Samudra Pasai.
Bukti
adanya kerajaan ini diperkuat oleh pedagang dari Venesia yang bernama
Marcopolo, Italia yang singgah di Peureulak pada tahun 1292 M. Menurut buku
hikayat raja-aja Pasai. Saat itu Peureulak merupakan sebuah kerajaan. Kerajaan
Samudra Pasai didirikan oleh Sultan Malik Al Saleh, Setelah Sultan Malik Al
Saleh menikah dengan Putri Ganggang dari Peureulak, akhirnya Peureulak
bergabung ke dalam Kerajaan Samudra Pasai.
Selain
Sultan Malik Al Saleh, raja terkenal lainnya ialah Sultan Malik At-Tahir. Pada
masa pemerintahannya, datanglah seorang pengembara dari Maroko bernama Ibnu
Batutah. Dari catatan Ibnu Batutah diketahui adanya masyarakat Samudra Pasai.
Mata Pencaharian utama masyarakat Kerajaan Samudra Pasai adalah dari pelayaran
dan perdagangan. Pelayaran dan perdagangan menjadi ramai karena Kerajaan
Samudra Pasai terletak di jalur perdagangan antara India dan Tiongkok, yaitu
Selat Malaka.
Selain
menjadi pusat perdagangan, Samudra Pasai juga menjadi pusat penyebaran agama
Islam. Pada tahun 1361 M, Kerajaan Samudra Pasai diserang oleh kerajaan
majapahit. Saat itu, Samudra Pasai diperintah oleh Sultan Zaenal Abidin.
Serangan itu dilancarkan karena Majapahit khawatir akan kemajuan Samudra Pasai
di bidang pelayaran dan Perdagangan. Kekuasaan Kerajaan Samudra Pasai kembali
merosot pada awal abad ke15. Kerajaan ini tidak terkenal dibandingkan
Kesultanan Malaka. Meskipun makin merosot, nama Samudra Pasai abadi dalam
bentuk lain. Ibnu Batutah mengeja nama itu sebagai Sunatrah. Itulah cikal bakal
nama Pulau Sumatera yang kita kenal sekarang.
2.
Kerajaan Aceh
Pada
tahun 1511 M, bangsa Portugis menguasai Malaka kemudian Portugis menguasai
Samudra Pasai. Sejak saat itu, para pedagang Islam mencari pelabuhan lain untuk
menghindari Portugis. Pelabuhan baru itu adalah Aceh. Dari sinilah muncul
sebuah kerajaan baru, yaitu kerajaan Aceh. Kerajaan Aceh berdiri pada abad
ke-16. Kerajaan ini terletak di tepi selat Malaka, sedangkan pusat Kerajaan
Aceh terdapat di Kutaraja (Banda Aceh).
Kerajaan
Aceh yang pertama dipimpin oleh raja yang bernama Sultan Ali Mughayat Syah.
Beliau memerintah antara tahun 1514 – 1528 M. Pada tahun 1520 M, Ali Mughayat
Syah mulai memperluas wilayah kekuasaannya. Kemudian Kerajaan Aceh berkembang
menjadi sebuah kerajaan Islam yang kuat.
Kerajaan
Aceh berhasil menguasai daerah penghasil lada dan emas, yaitu Deli, Pasai, dan
Arun. Sultan Ali Mughayat Syah wafat pada tahun 1530 M. Beliau digantikan oleh
putra sulungnya yang bernama Salahuddin (1528 – 1537M). Sultan tersebut tidak
mampu menjalankan roda pemerintahan. Akhirnya pada tahun 1537 M, ia digantikan
oleh adiknya, Aulauddin Riayat Syah (1537 – 1568), yang bergelar Al Qahhar
(Sang Penguasa). Sultan Alauddin Riayat Syah menyebarkan agama Islam sampai ke
Siak (Riau) dan Minangkabau (Sumatera Barat). Dalam hubungannya dengan luar
negeri, Sultan tersebut menjalin hubungan dengan Turki di Istanbul. Sekitar 40
orang perwira Turki melatih tentara Aceh dan mengajarkan pembuatan meriam di
Aceh. Armada Aceh menjadi semakin tangguh.
Dengan
kekuatan armadanya, Sultan Alauddin menggempur Portugis di Malaka sebanyak tiga
kali, yaitu pada tahun 1527, 1560, dan 1568 M. Namun usaha Sultan Alauddin
gagal. Setelah Sultan Alauddin wafat, kekuatan Aceh mulai melemah. Kerajaan
Aceh mulai maju perkembangannya saat Sultan Iskandar Muda naik tahta. Wilayah
kekuasaan Aceh semakin luas. Kekuasaan Aceh meliputi sebagian besar Sumatera,
kecuali Palembang dan Lampung yang dikuasai oleh Banten. Armada Aceh menjadi
kekuatan laut yang besar di nusantara bagian barat. Pada masa pemerintahan
Sultan Iskandar Muda, kerajaan Aceh mencapai kejayaannya.
Sultan
Iskandar Muda memperluas wilayahnya hingga ke semenanjung Malaysia dengan
menaklukkan Johor pada tahun 1615, Pahang 1617, dan Kedah 1620 M. pada tahun
1629, Sultan Iskandar Muda mengirim ratusan kapal perang untuk merebut Malaka
dari tangan Portugis. Usaha tersebut gagal karena Portugis memperalat Sultan
Johor untuk menyerang Aceh. Kerajaan Aceh pun berhasil menjadikan kerajaannya
sebagai pusat perdagangan dan pengembangan agama Islam. Pada saat itu, Aceh
memiliki banyak pujangga ternama, seperti Hamzah Fansuri, serta ulama terkenal
yang bernama Syekh Abdurrauf Singkil. Syekh Abdurrauf Singkil inilah yang
pertama kali menerjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa Melayu. Aceh mengalami
kemunduran Sejak Sultan Iskandar Muda wafat pada tahun 1636 M.
3.
Kerajaan Demak
Demak
merupakan kerajaan Islam pertama di pulau Jawa. Semula, Demak merupakan salah
satu wilayah di bawah kekuasaan Majapahit. Pada abad ke-15, daerah pantai utara
Jawa Tengah dan Jawa Timur, termasuk Demak, sudah memeluk agama Islam. Akan
tetapi raja-rajanya tetap setia kepada Majapahit. Perbedaan agama tidak menjadi
persoalan, sebab kalangan pembesar Majapahit pun sudah mulai menganut agama
Islam. Hal ini dibuktikan oleh adanya pemakaman muslim di Tralaya dan Trowulan.
Ketika Kerajaan Majapahit runtuh akibat perang saudara pada tahun 1478, pusat
kerajaan Hindu berpindah dari Holing dan akhirnya ke Daha (Kediri). Runtuhnya
Majapahit menyebabkan bangkitnya Demak menjadi kerajaan Islam pertama di pulau
Jawa.
Berikut
ini adalah raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Demak:
1.
Raden
Patah Sultan Demak yang pertama adalah Raden Patah. Nama ini berasal dari
bahasa Arab. Fatah yang artinya pembuka. Ia disebut demikian karena menjadi
penguasa pertama yang beragama Islam. Raden patah memerintah tahun 1481 M –
1518 M
2.
Adipati
Unus Putra tertua Raden Patah adalah pangeran Unus. Ia menjabat sebagai
adipati/ bupati di Jepara sehingga dikenal sebagai Dipati Unus. Pada tahun 1513
M, ia memimpin armada laut Demak yang berjumlah ribuan orang tentara untuk merebut
Malaka dari tangan Portugis. Oleh karena usahanya yang gigih itu. Ia dijuluki
“Pangeran Sabrang Lor’’. Dipati Unus memerintah di tahun 1518 – 1521 M.
Kerajaan Demak mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan
Trenggono. Sedangkan, Pada masa Kerajaan Demak, penyebaran agama Islam di pulau
Jawa berkembang sangat pesat. Tokoh-tokoh yang tidak boleh dilupakan dalam
penyebaran agama Islam di pulau Jawa adalah para wali yang berjumlah sembilan
orang. Sering orang menyebutnya dengan “Wali Songo” atau yang artinya “Wali
Sembilan”.
4.
Kerajaan Banten
Pada
awal abad ke-16, daerah Jawa Barat dikuasai oleh Kerajaan Pajajaran yang
beragama Hindu. Pusat kerajaan ini berlokasi di Pakuan (Bogor). Kerajaan
Pajajaran memiliki bandar-bandar penting seperti Banten, Sunda Kelapa
(Jakarta), dan Cirebon. Kerajaan Pajajaran telah mengadakan kerja sama dengan
Portugis. Oleh karena itu, Portugis diizinkan mendirikan kantor dagang dan
benteng pertahanan di Sunda Kelapa. Untuk membendung pengaruh Portugis di
Pajajaran, Sultan Trenggono dari Demak memerintahkan Fatahillah selaku panglima
Kerajaan Demak untuk menaklukkan bandar-bandar Pajajaran.
Pada
tahun 1526 M, armada Demak berhasil menguasai Banten. Pasukan Fatahillah juga
berhasil merebut pelabuhan Sunda Kelapa pada 22 Juni 1527 M. Sejak saat ini
nama “Sunda Kelapa” diubah menjadi “Jayakarta” atau “Jakarta”. Artinya kota
kemenangan. Untuk mengenang hari tersebut maka tanggal 22 Juni kemudian
dijadikan hari jadi ibukota Jakarta.
Dalam
waktu singkat, seluruh Pantai Utara Jawa Barat dapat dikuasai oleh Fatahillah.
Agama Islam semakin berkembang di Jawa Barat. Pada tahun 1552 M, putra
Fatahillah yang bernama Hasanuddin diangkat menjadi penguasa Banten. Putranya
yang lain, Pasarean, diangkat menjadi penguasa di Cirebon. Fatahillah sendiri
mendirikan pusat kegiatan keagamaan di Gunung Jati, Cirebon sampai beliau wafat
pada tahun 1568 M. Jadi pada awalnya Kerajaan Banten merupakan wilayah
kekuasaan Kerajaan Demak.
Beberapa
raja yang pernah memimpin kerajaan Banten, antara lain:
1)
Sultan
Hasanuddin Ketika terjadi perebutan kekuasaan di Kerajaan Demak, daerah Banten
dan Cirebon berusaha melepaskan diri dari kekuasaan Demak. Akhirnya, Banten dan
Cirebon menjadi kerajaan yang berdaulat, lepas dari pengaruh Demak. Sultan
Hasanuddin menjadi raja pertama di Banten dan memerintah selama 18 tahun, pada
tahun 1552 – 1570 M. Pada masa pemerintahannya Ia berhasil membangun pelabuhan
Banten menjadi pelabuhan yang ramai dikunjungi para pedagang dari berbagai
bangsa, serta berhasil menguasai Lampung (Sumatera) yang memiliki jalur lalu
lintas perdagangan dan banyak menghasilkan rempah-rempah.
2)
Maulana
Yusuf Maulana Yusuf memerintah Kerajaan Banten pada tahun 1570 – 1580 M. pada
tahun 1579. Ia berhasil menaklukkan Kerajaan-kerajaan di Pakuan (Bogor) dan
sekaligus menyingkirkan rajanya yang bernama Prabu sedah. Akibatnya, banyak
rakyat Pajajaran yang menyinggir ke pegunungan. Mereka inilah yang sekarang di
kenal sebagai orang Badui atau suku Badui di Rangkas Bitung, Banten.
3)
Sultan
Ageng Tirtayasa Sultan Ageng Tirtayasa memerintah Banten pada tahun 1651 – 1682
M. kerajaan ini pada saat dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa mencapai masa
kejayaannya. Pada tahun 1571 M, Ia mengangkat putranya menjadi raja pembantu
dengan gelar Sultan Abdul Kahar atau Sultan Haji. Sultan Haji menjalin hubungan
baik dengan Belanda. Melihat hal itu, Sultan Ageng Tirtayasa merasa kecewa dan
menarik kembali jabatan raja pembantu bagi Sultan Haji. Akan tetapi, Sultan
Haji berusaha mempertahankan dengan meminta bantuan kepada Belanda. Akibatnya,
terjadilah perang saudara. Sultan Ageng Tirtayasa tertangkap dan dipenjara di
Batavia (sekarang Jakarta) hingga beliau wafat pada tahun 1691 M.
5.
Kerajaan Ternate dan Tidore
Sejak
abad ke-13, Maluku sudah ramai dikunjungi oleh pedagang-pedagang Islam dari
Jawa dan Melayu. Seiring dengan ramainya perdagangan, berdatangan pula para
penyebar agama Islam dari Jawa Timur. Salah seorang ulama yang berjasa
menyebarkan agama Islam di Maluku ialah Sunan Giri dan Gresik, Jawa Timur.
Kerajaan
atau kesultanan Ternate merupakan kerajaan yang mendapat mengaruh Islam dari
para pedagang Jawa dan Melayu. Pusat pemerintahan Kerajaan Ternate terdapat di
Sampalu. Raja Ternate yang pertama yaitu Sultan Zainal Abidin (1486 – 1500 M).
Raja yang Ternate yang terkenal yaitu, Sultan Hairun. Selain Kerajaan Ternate,
terdapat pula kerajaan Tidore. Raja Tidore yang pertama, yaitu Sultan Mansur.
Raja
atau Sultan Tidore yang terkenal ialah pangeran Nuku. Kerajaan Ternate dan
Tidore terjadi persaingan dalam hal memperluas kekuasaan dan perdagangan
sehingga sering terjadi peperangan.
Pada
abad ke-16, bangsa eropa mulai berdatangan ke Maluku. Perselisihan antara
Ternate dan Tidore dimanfaatkan oleh Portugis dan Spanyol. Raja atau Sultan
Ternate dibantu oleh Portugis, sedangkan Raja atau Sultan Tidore dibantu oleh
Spanyol. Untunglah masyarakat Maluku sadar bahwa mereka diperalat oleh bangsa
asing. Mereka kembali bersatu padu untuk melawan bangsa asing. Pada tahun 1575
M, Ternate di bawah pimpinan Sultan Baabullah, berhasil menghancurkan benteng
Portugis di Maluku.
Pada
masa pemerintahan Sultan Baabullah (1570 – 1583 M), Ternate mengalami kemajuan
yang pesat dan berhasil mengusir Portugis dan Spanyol dari Maluku.
6.
Kerajaan Gowa dan Tallo
Gowa
dan Tallo merupakan kerajaan kembar yang bersatu. Pusat kerajaan tersebut
adalah di Somba Opu (Makasar). Raja Tallo pada waktu itu bernama Karaeng
Matoaya. Ia merupakan raja pertama Sulawesi Selatan yang memeluk agama Islam
dan bergelar Abdullah Awalu Islam. Sedangkan, Raja Gowa bernama Daeng Manrabia.
Dalam
bidang perdagangan, kerajaan Gowa-Tallo menjalin hubungan baik dengan kerajaan
lain, seperti Banten, Mataram, Maluku, dan Malaka. Hubungan luar negeri juga
berjalan dengan baik, terutama dengan Arab, Spanyol, dan Portugis. Kerajaan ini
mencapai puncak kejayaannya saat dipimpin oleh Sultan Hasanudin (1653 – 1669
M). Ketika itu Belanda berusaha keras untuk menguasai Gowa-Tallo, namun
mendapat perlawanan sengit dari Sultan Hasanuddin. Salah satunya Belanda menghalangi
pelaut Makasar memberi rempah-rempah dari Maluku, dengan tegas hasanudddin
berkata. “Laut adalah milik Allah dan semua menusia bebas menggunakannya”.
Karena
ketegasannya Belanda menjuluki Sultan Hasanuddin sebagai “Ayam Jantan dari
Timur”. Akhirnya karena pengkhianatan Raja Aru Palaka dari Bone, Belanda
berhasil mengalahkan Kerajaan Gowa-Tallo pada tahun 1667 M, Sultan Hasanuddin
harus menandatangani perjanjian Bongaya yang sangat merugikan rakyat Gowa dan
Tallo.
Peninggalan
Kerajaan Bercorak Islam di Indonesia
Seperti
yang telah dipelajari di atas, Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke[1]11
s.d ke-13 M. Hal ini dibuktikan oleh Marco Polo (1297 M) dan berita Ibnu
Batutah pada abad ke-14 M. pengaruh Islam masuk ke Indonesia tidak melalui
kekerasan atau peperangan, tetapi secara damai dan perlahan-lahan melalui para
pedagang yang berasal dari Arab, Persia, dan Gujarat.
Sebagaimana
kerajaan Hindu dan Budha, kerajaan Islam di Indonesia juga meninggalkan
berbagai peninggalan sejarah. Peninggalan itu berupa bangunan tempat ibadah/
masjid, makam atau kuburan, pondok pesantren, dan lain-lain:
1.
Masjid
Masjid
merupakan tempat ibadah bagi umat Islam. Pada masa lampau, masjid dipakai
sebagai tempat ibadah para raja. Beberapa masjid peninggalan kerajaan-kerajaan
Islam antara lain sebagai berikut:
- Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh - Masjid
Raya Medan - Masjid Agung Banten - Masjid Agung Demak - Masjid Agung Yogyakarta
2.
Istana
Istana
raja pada zaman dahulu digunakan sebagai tempat tinggal raja dan keluarganya,
serta pembesar kerajaan lainnya.
Beberapa
istana peninggalan antara lain sebagai berikut:
- Istana Maimun Medan Baru, Sumatera Utara -
Istana Siak Sri Inderapura, Pekan Baru Riau - Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Yogyakarta
Kerajaan
Samudra Pasai, peninggalan : Hikayat Raja Pasai, Lonceng Cakra Donya, dan makam
Sultan Malik Al Saleh.
Kerajaan
Aceh, peninggalan : Masjid Raya Baiturrahman, Benteng Indraprata, dan makam
Iskandar Muda.
Kerajaan
Demak, peninggalan : Masjid Agung Demak dan pintu Bledeg.
Kerajaan
Banten, peninggalan : Masjid Agung Banten, Istana Keraton Kaibon, dan Istana
Surosowan.
Kerajaan
Ternate dan Tidore, peninggalan : Makam Sultan Baabullah, Masjid Ternate, dan
Keraton Tidore.
Gowa-Tallo,
peninggalan : Benteng Ford Rotterdam, Benteng Somba Opu, makam Sultan
Hasanuddin, dan masjid Katangka. Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh Istana
Maimun Medan Baru, Sumatera
Pengaruh
Kerajaan Islam Terhadap Kehidupan Masa Kini
Setelah
kerajaan Hindu-Budha di Indonesia mengalami kemunduran, muncullah
kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Kerajaan ini membawa pengaruh terhadap
kehidupan masyarakat sekitar. Pengaruh kerajaan Islam pada masa kini terjadi
pada beberapa aspek, misalnya di bidang pendidikan, pemberian nama universitas,
pemberian nama Bandara, dan pemberian nama anak. Kini banyak sekolah yang
berbasis agama Islam.
Selain
itu, adanya pesantren juga merupakan bentuk pengaruh Islam yang terjadi di
Indonesia. Nama-nama universitas yang memakai nama kerajaan dan tokoh-tokoh
masa kerajaan Islam, antara lain:
a.
UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
b.
UIN Sunan Gunung Jati, Bandung Jawa Barat
c.
Universitas Hasanuddin, Makasar Sulawesi Selatan
d.
Universitas Sultan Agung Tirtayasa, Serang Banten
untuk latihan soal dapat klik link quizizz berikut ini
juga dapat berlatih latihan soal pada link ini
Komentar
Posting Komentar