Rangkuman IPS Tema 7

 


RANGKUMAN IPS TEMA 7

 

Suku Bangsa, Bahasa, dan Agama di Indonesia

1.         Suku Bangsa di Indonesia

Persebaran suku-suku bangsa di Indonesia pada awalnya berasal dari daratan Asia. Orang-rang dari Asia bermigrasi ke Yunan atau Tiongkok Selatan. Pada perkembangannya mereka berpindah lagi menuju Vietnam dan akhirnya sampailah ke Indonesia. Orang-orang yang tiba di Indonesia itu disebut sebagai bangsa Melayu.

Dari seluruh wilayah yang tersebar di Indonesia, tiap-tiap suku yang sangat beragam itu memiliki ciri-ciri, bahasa, dan budaya yang beragam pula. Keragaman suku bangsa di Indonesia terjadi karena asal nenek moyang yang bermigrasi ke Indonesia berbeda-beda ras.

Dalam perkembangannya, pengaruh percampuran ras yang berbeda itu kemudian membentuk ratusan suku bangsa bahkan ribuan jika dirinci sampai ke subsukunya. Populasi suku bangsa di Indonesia berbeda-beda. Ada suku bangsa yang sangat banyak penduduknya, ada pula yang sedikit. Sebagian besar penduduk Indonesia tinggal di pulau Jawa sehingga suku bangsa yang terbesar di Indonesia adalah suku Jawa. Sedangkan suku yang sedikit jumlahnya yaitu suku Papua.

 

2.                   Bahasa Daerah di Indonesia

Keragaman suku bangsa di Indonesia diiringi pula dengan keragaman bahasa daerahnya. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayan sejak tahun 1991 hingga 2017 telah melakukan pengamatan pada 2.452 daerah. Dari pengamatan tersebut, jika berdasarkan perhitungan persebaran bahasa daerah per provinsi maka bahasa yang ada di Indonesia mencapai 733 bahasa daerah.

 

3.                   Agama di Indonesia

Indonesia merupakan negara yang berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal tersebut tercantum dalam sila pertama Pancasila dan UUD 1945. Sila pertama ini menjiwai sila-sila berikutnya. Meskipun Indonesia bukanlah negara agama, namun nilai-nilai ketuhanan harus mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara.

Seluruh warga negara Indonesia harus ber-Tuhan dan memiliki agama. Di negara kita, tidak dibenarkan paham komunis yang anti Tuhan. Dalam UUD 1945, secara tegas menyatakan bahwa negara ini berdiri di atas dasar ketuhanan. Hal itu dinyatakan pada Pasal 29 Ayat (1), “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.” Lalu Ayat (2), “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Agama yang diakui di Indonesia ada 6, yaitu agama Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hinda, Budha, dan Konghucu. Pada mulanya, hanya ada 5 agama yang diakui di Indonesia, namun sejak kepemimpinan presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), agama Khonghucu diizinkan di Indonesia.

Dari sekian agama yang ada di Indonesia, agama Islam merupakan agama yang paling banyak penganutnya. Lebih dari 80% penduduk Indonesia beragama Islam. Setiap agama memiliki tatacara tersendiri dalam beribadah. Masing-masing pemeluk agama, beribadah sesuai kepercayaannya. Sebagai bangsa yang satu, kita harus saling menghargai agar tercipta persatuan dan kesatuan bangsa

Mengenal Beberapa Suku Bangsa dan Bahasa di Indonesia

1.       Suku Jawa

Suku Jawa merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia. Populasinya mencapai 40,22% dari penduduk Indonesia. Sebagian besar suku Jawa tinggal di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Banyak pula yang melakukan transmigrasi ke Pulau Sumatera dan daerah-daerah lain di wilayah Indonesia. Bahkan, dari sebagian Suku Jawa, ada pula yang bermigrasi hingga ke luar negeri seperti Malaysia dan Suriname. Suku Jawa menganut agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha. Dalam sejarahnya, banyak daerah Jawa yang merupakan daerah peninggalan sejarah kerajaan, baik kerajaan Hindu-Budha, dan Islam. Oleh karena itu, seni dan budaya Jawa banyak dipengaruhi oleh ketiga agama tersebut, seperti seni wayang kulit yang bercorak Hindu dan upacara Sekaten dan Gerebek Maulid yang bercorak Islam. Karakteristik Suku Jawa tergolong unik. Suku Jawa terkenal sebagai pekerja keras dan cenderung menyembunyikan perasaan sebenarnya. Orang Jawa sangat menjaga unggah-ungguh (etika dan tatakrama), termasuk dalam penggunaan bahasa. Dalam keseharian, bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa yang terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu Kromo Inggil, Kromo Alus, dan Ngoko. Dalam penggunaannya, bahasa tersebut disesuaikan dengan tingkat usia serta orang yang diajak bicara.

2.       Suku Sunda

Suku Sunda berasal dari penduduk asli Jawa Barat. Penyebaran suku Sunda dikenal dengan istilah Tatar Pasundan yang mencakup Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, Lampung, dan wilayah barat Jawa Tengah. Orang Sunda tersebar di berbagai wilayah Indonesia dengan Provinsi Jawa Barat dan Banten sebagai wilayah utamanya. Mayoritas suku Sunda beragama Islam. Bahasa sehari-hari yang digunakan adalah bahasa Sunda. Meskipun terpisah dari berbagai wilayah, orang Sunda dapat dipersatukan dengan bahasa dan budaya. Suku Sunda dikenal ramah, sopan, riang, jujur, dan bersahaja.

3.       Suku Batak

Suku Batak berasal dari wilayah Sumatera Utara. Suku Batak tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Sebagian besar tinggal di Sumatera Utara, dan sebagian yang lain berada di sumatera Barat dan Aceh. Suku Batak memiliki banyak subsuku, yaitu suku Alas, Karo, Kluet, Toba, Pakpak, Dairi, Simalungun, Angkola, dan Mandailing. Pengelompokan suku tersebut berdasarkan wilayah tempat tinggal. Suku Batak mayoritas beragama Kristen dan Islam. Bahasa sehari-hari yang digunakan adalah bahasa Batak. Bahasa Batak terdiri dari berbagai jenis, yaitu bahasa Batak Alas-Kluet, Batak Dairi, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Angkola, Batak Mandailing, dan Batak Toba. Orang Batak memiliki nama marga atau keluarga yang biasanya dicantumkan menjadi nama belakangnya. Jumlah nama marga sangat banyak sekali. Nama marga diperoleh dari garis keturunan ayah atau disebut Patrilineal. Contohnya: Nasution dari Batak Mandailing, Ginting dari Batak Karo, Silaban dari Batak Toba, dan masih banyak lagi. Suku Batak terkenal memiliki etos kerja yang tinggi dan menjunjung filsafat adat Dalihan Natolu, yang menjadi landasan sosial masyarakat di lingkungan orang Batak. Adat Dalihan Natolu meliputi: a. Somba Marhula-Hula : hormat kepada pihak keluarga ibu b. Elek Marboru : ramah pada keluarga saudara perempuan c. Manat Mardongan Tubu : kompak dalam hubungan semarga

 

4.       Suku Madura

Suku Madura berasal dari pulau Madura yang terletak di Provinsi Jawa Timur. Di samping suku Jawa dan Sunda, suku Madura banyak yang melakukan transmigrasi dan tinggal di wilayah lain di Indonesia terutama Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Suku Madura mayoritas beragama Islam. Bahasa Madura tergolong unik karena dalam pengucapannya memiliki dialeg yang berbeda. Dan salah satu keunikan lainnya, tidak ada huruf “w” yang akan kita temukan dalam kosakata bahasa Madura. Kebudayaan yang terkenal dari Madura diantaranya adalah Karaban Sapi. Orang Madura memiliki etos kerja yang tinggi. Mereka suka merantau karena kondisi alam Madura yang kurang baik untuk bertani. Sebagian besar akhirnya banyak yang bermata pencaharian sebagai pedagang.

 

5.       Suku Betawi

Suku Betawi adalah salah satu suku bangsa di Indonesia yang pada umumnya tinggal di daerah Jakarta. Sejumlah pihak menyebutkan bahwa suku Betawi adalah hasil percampuran antar etnis dan budaya yang ada pada masa silam. Suku Betawi lahir dari perpaduan berbagai kelompok suku yang telah ada di Jakarta seperti Sunda, Melayu, Jawa, Bali, Bugis, Makassar, Ambon, serta suku[1]suku pendatang seperti Arab, India, Tionghoa, dan Eropa. Suku Betawi terbentuk dari campuran berbagai suku bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia ketika itu. Mayoritas suku Betawi beragama Islam. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Betawi. Namun karena wilayah Jakarta merupakan ibukota negara, bahasa yang lebih sering digunakan adalah Bahasa Indonesia. Dalam keseharian, Bahasa Indonesia dilafalkan dengan logat khas bahasa Betawi yang banyak huruf “e” pada akhir kata, seperti kata ‘apa’ menjadi ‘ape’, ‘siapa’ menjadi ‘siape’ dan lain sebagainya. Sebagian budaya Betawi ada yang dipengaruhi oleh budaya bangsa Eropa, contohnya kesenian musik Tanjidor yang sering mengiringi lagu daerah Betawi seperti Sirih Kuning, Jali-Jali, dan Surilang. Mulanya kebudayaan ini muncul pada masa perbudakan penjajahan Eropa. Seiring perjalanan waktu, kesenian music Tanjidor tak lagi diminati oleh generasi muda Betawi karena makin tergusur oleh munculnya musik modern

 

6.       Suku Minangkabau

Suku asli Minangkabau berasal dari Sumatera Barat. Suku Minangkabau atau suku Minang lebih dikenal dengan sebutan Orang Padang. Nama Padang diambil dari nama ibukota provinsinya. Daerah Minangkabau terdiri dari banyak nagari. Nagari adalah dearah otonom dengan kekuasaan tertinggi terletak di Minangkabau. Tiap nagari dipimpin oleh sebuah dewan yang disebut KAN (Kerapatan Adat Nagari). KAN terdiri dari pemimpin-pemimpin suku setiap nagari. Semua peraturan dan keputusan harus melalui musyawarah mufakat dewan KAN. Bahasa sehari-hari yang digunakan oleh suku Minangkabau adalah bahasa Minang. Suku Minangkabau, amat lekat dengan identitas muslim. Sehingga agama utama suku tersebut adalah agama Islam. Budaya yang berbentuk dalam lingkungan Suku Minangkabau lebih bercorak Islam. Oleh karena itu, suku Minangkabau mendasarkan adat budayanya pada syariat Islam, yang berbunyi “Adat basandi syarak. Syarak basandi kitabullah. Syarak mangato adat mamakai” artinya: Adat bersendikan Syariat agama. Syariat bersendikan Kitab Allah. Syariat berkata, adat digunakan/laksanakan. Suku Minangkabau termasuk suku perantau. Meskipun masih banyak yang tinggal di daerah asalnya, Suku Minang menetap di berbagai wilayah di luar pulau Sumatera, Indonesia. Suku Minang sangat menonjol dalam hal perniagaan, sebagian besar bermata pencaharian sebagai pedagang. Dalam pola keturunan pewarisan adat, suku Minang menganut pola matrilineal, yaitu garis ibu. Berbeda dengan suku-suku lain yang sebagian besar menganut pola patrilineal, atau garis keturunan ayah

 

7.       Suku Bugis

Suku Bugis berasal Sulawesi Selatan. Suku Bugis terbagi menjadi empat macam suku yaitu Bugis Makassar, Bugis Mandar, Tator, dan Bugis. Suku Bugis tersebar di dataran rendah dan daerah pesisir pantai. Mata pencaharian sebagian besar suku Bugis adalah petani dan nelayan. Mayoritas suku Bugis menganut agama Islam. Bahasa daerah yang digunakan adalah bahasa Bugis. Jiwa perantau masyarakat Bugis mendorong mereka merantau ke berbagai wilayah di Indonesia bahkan mancanegara, hingga suku Bugis dikenal sebagai pelaut ulung. Suku Bugis banyak yang ditemukan di daerah pesisir Nusantara, bahkan hingga Malaysia, Singapura, Filipina, Brunai, dan Thailand. Suku-suku yang telah dijelaskan di atas merupakan sebagian kecil dari ratusan jenis suku yang ada di Indonesia. Meskipun populasi 7 suku ini adalah suku terbanyak di Indonesia, namun yang mayoritas tidak lantas merasa lebih baik ataupun lebih hebat. Masing-masing suku memiliki karakter, ciri khas, dan keunikan yang berbeda[1]beda hingga makin memperindah keragaman yang ada di Indonesia

 

Keunikan Beberapa Pakaian Adat di Indonesia

1.       Pakaian Adat Aceh

Pakaian adat Aceh bernama pakaian Ulee Balang. Pakaian untuk pria disebut baju Linto Baro, sedangkan pakaian untuk wanita disebut baju Daro Baro. Dahulunya, pakaian ini hanya digunakan oleh para sultan dan pembesar kerajaan, namun sekarang keduanya lebih sering dipakai oleh para pengantin

2.       Pakaian Adat Sumatera Barat

Di tanah Minang, budaya yang patut dicontoh adalah dijunjung tingginya peran seorang ibu dalam adat istiadat mereka. Oleh karenanya, pola keturunan pewarisan adat suku Minang menganut pola matrilineal, atau garis ibu. Berbagai aspek budaya di tanah Sumatera Barat sedikit banyak telah dipengaruhi oleh pola tersebut. Hal itu terlihat pula dalam ragam pakaian adat Sumatera Barat yang bernama pakaian adat Bundo Kanduang. Semua segi dan aksesoris pakaian ini memiliki nilai filosofis yang berhubungan dengan peran seorang ibu dalam keluarga dan tingkatan sosial.

3.       Pakaian Adat Sumatera Selatan

Ada dua jenis gaya busana pakaian adat Palembang yang cukup dikenal yaitu Aesan Geda dan Aesan Pasangko. Aesan gede adalah pakaian yang menunjukan keagungan, sementara aesan paksangko adalah pakaian yang menunjukan keanggunan. Dahulu, kedua pakaian tersebut hanya digunakan oleh raja dan para pembesar kerajaan. Namun sekarang lebih umum digunakan oleh sepasang pengantin Palembang dalam upacara pernikahannya.

4.       Pakaian Adat Lampung

Sebetulnya, tidak ada nama khusus untuk pakaian adat Lampung. Akan tetapi, berbagai pernik kain yang digunakan pada pakaian tersebut umumnya dibuat dari bahan kain tapis. Kais tapis adalah kain tenun tradisional khas Lampung yang menonjolkan warna emas sebagai warna utamanya.

5.       Pakaian Adat Jawa Barat

Dalam berpakaian, masyarakat Sunda–Jawa Barat mengenal ragam jenis pakaian yang penggunaannya didasarkan pada fungsi, umur, dan strata sosial pemakainya. Akan tetapi, secara umum kita cenderung lebih mudah menemukan tiga jenis pakaian adat Jawa Barat yang hingga kini masih tetap populer, yaitu pakaian rakyat, kaum menengah, dan para bangsawan. Sementara untuk upacara pernikahan, dikenanakan pakaian pengantin yang bernama pakaian Sukapura.

6.       Pakaian Adat Yogyakarta

Dalam adat Yogyakarta, dapat kita temukan banyak sekali ragam pakaian adat tradisional yang mana dalam telah diatur sedemikian rupa berdasarkan hukum adat, termasuk pula dalam aturan kapan, dimana, dan siapa yang menggunakan pakaian tersebut. Namun, secara keseluruhan pakaian adat yang paling sering dikenakan adalah pakaian rakyat. Untuk pria menggunakan baju sorjan, kain batik, serta blangkon sebagai penutup kepala. Adapun untuk wanita, dikenakan kebaya, kain batik, dan sanggul rambut yang ditata sedemikian rupa.

7.       Pakaian Adat Kalimantan Barat

Masyarakat Kalimantan Barat secara umum didominasi suku Dayak dan suku Melayu. Dalam hal berbusana, keduanya memiliki beberapa perbedaan. Pakaian adat suku Dayak Kalimantan Barat bernama King Bibinge dan King Baba. King Bibinge adalah pakaian wanita, sedangkan King Baba adalah pakaian yang digunakan oleh pria. Kedua pakaian tersebut dibuat dari kulit kayu. Sementara aksesorisnya seperti kalung, manik-manik, atau penutup kepalanya dibuat dari bulu burung, biji-bijian, dan bahan alam lainnya.

8.       Pakaian Adat Kalimantan Tengah

Masyarakat Kalimantan Tengah mayoritas penduduknya adalah masyarakat suku Dayak Ngaju. Dalam hal berpakaian, sub suku Dayak ini memiliki sebuah busana khas yang bernama baju sangkarut. Baju sangkarut merupakan baju model rompi yang terbuat dari serat kulit kayu. Baju ini dicat sedemikian rupa dengan pewarna alami dan dihiasi dengan pernik uang logam, kancing, serta kulit trenggiling. Baju ini dikenakan bersama cawat sebagai bawahan, ditambah dengan asesoris senjata tradisional khas Dayak seperti mandau, perisai, dan tombak.

9.       Pakaian Adat Sulawesi Selatan

Ada banyak jenis pakaian adat yang dikenal dalam budaya masyarakat Sulawesi Selatan. Hanya saja, yang paling terkenal adalah pakaian adat yang bernama Baju Bodo. Baju Bodo adalah baju dengan desain yang sangat sederhana. Baju ini sangat minim jahitan. Selain itu, ia dianggap sebagai baju paling tua dan bahkan tercantum dalam Kitab Patuntung, kitab peninggalan nenek moyang suku Makassar. Baju Bodo umumnya juga dikenakan bersama aksesoris yang terbuat dari logam sebagai hiasannya. Penggunaan baju Bodo saat ini cenderung hanya dilakukan pada saat upacara adat atau pertunjukan tarian adat.

10.   Pakaian Adat Sulawesi Tengah

Dirunut dari demografinya, masyarakat Sulawesi Tengah terdiri atas campuran 8 suku besar, yaitu Suku Kaili, suku Mori, suku Bugis, suku Toli Toli, suku Babasal, suku Saluan, suku Gorontalo, dan suku Pamona. Masing-masing suku tersebut memiliki budaya yang berbeda. Namun, bila bicara tentang pakaian adat Sulawesi Tengah, kita hanya akan menuju pada pakaian adat suku Kaili yang bernama Baju Nggembe dan Baju Koje. Baju Nggembe adalah baju adat khusus wanita atau remaja putri, sementara Baju Koje adalah pakaian khusus pria. Kedua pakaian ini umumnya hanya dikenakan saat pesta atau upacara adat. Selengkapnya tentang desain Baju Nggembe dan Baju Koje.

11.   Pakaian Adat Sulawesi Tenggara

 Suku bangsa yang mendominasi masyarakat Sulawesi Tenggara adalah suku Tolaki. Suku ini memiliki pakaian adat yang bernama Babu Nggawi dan Babu Nggawi Langgai. Babu Nggawi adalah pakaian khusus pengantin Wanita, sementara Babu Nggawi Langgai adalah pakaian pengantin pria. Kedua pakaian inilah yang menjadi ikon pakaian adat Sulawesi Tenggara.

12.   Pakaian Adat Nusa Tenggara Timur

 Provinsi Nusa Tenggara Timur dihuni oleh 7 suku yaitu suku Rote, suku Helong, suku Sabu, suku Atoni atau Dawan, suku Sumba, suku Manggarai, dan suku Lio. Masing-masing suku ini memiliki pakaian adat yang khas. Adapun pakaian adat yang paling di kenal dari budaya masyarakat Provinsi NTT adalah pakaian adat Suku Rote. Pakaian ini begitu dikenal karena desainnya yang sangat estetis, di mana salah satu keunikannya terletak pada desain Ti’i langga. Ti’i langga adalah sebuah penutup kepala dengan bentuk seperti topi sombrero khas Meksiko yang dibuat dari daun lontar kering. Selain untuk pelengkap penampilan, topi adat suku Rote ini juga dianggap sebagai simbol wibawa dan kepercayaan diri bagi para pria Rote.

 

Untuk latihan soal silahkan klik link quizizz berikut ini 

Komentar